Rabu, 06 September 2017

Seruan Nabi Ibrahim dan Refleksi Gugatan Kepada Negara


TANAH tandus bebongkah-bongkah. Padang pasir seluas Sahara, terhampar di hadapan sejauh mata memandang.
Semuanya seperti tak berdaya bila hidup berlama-lama di kota ini. Panas menyengat hingga ke ubun-ubun kepala.
Hati jadi nanar membayangkan perjuangan seorang hamba utusan Tuhan saat berdakwah, berkhotbah, dan memberi penyadaran tauhid ajaran agama kepada kaum jahilliyah masa itu. 
Seseorang berbisik dengan suara yang sebenarnya terdengar lantang di telinga saya. “Kalian bayangkan betapa keras dan susahnya, saat Nabi maupun Rasul utusan Allah SWT menapak kaki dengan unta, membumikan wahyu agama langit. Penentangan kaum jahilliyah terhadap upaya memporak-porandakan berhala yang disembah nenek-moyang mereka, dibalas pula dengan cara tak pernah putus asa mengolok-olok bahkan mencelakakan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, maupun Muhammad Rasulullah SAW,” kata pria bersorban putih.
Perawakannya tinggi besar. Suara tawanya renyah. Ia bukan pembimbing ibadah kami. Seperti saya, ia juga mendapat undangan ke Tanah Suci. Saat itu saya tidak mengenal namanya, lagi pula tidak pernah punya urusan dengan dirinya.
Kami telah melewati Mina, Muzdalifah, dan Arafah. Saatnya kami mengelilingi bangunan yang mendekati bentuk kubus di tengah Masjidil Haram di Kota Mekkah al-Mukarahmah.
Labbaika Allahumma Labbaik. Aku tunduk kepada-Mu setelah ketundukan. Pertahanan diri saya jebol. Suara tangis meruak layaknya air bah dicurahkan langit.
Sudah lama saya tidak menangis. Sudah lama hati saya mengeras layaknya bongkahan batu sangat kokoh. Sudah lama saya bersenggama dengan ambisi saya buat mengejar karir dan pendapatan bagi pundi-pundi keuangan keluarga.
Kali ini saya harus takluk, tangis pecah membahana tak ubah kanak-kanak menangis saat terpencar dari ayahnya di tengah keramaian pasar. Di tengah keharuan yang menyeruak tanpa mampu saya bendung, saya mendekat ke pusat pusaran, dan menjejakkan kepala ke dalam Hajar Aswad.
Saya berdoa bagi orang yang sangat saya cintai: ibunda dan papa yang sudah lama berpulang menghadap Ilahi.
Di sela-sela jeda melaksanakan ibadah, rombongan kami sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang berbelanja ke Pasar Seng yang legendaris. Ada yang tekun melaksanakan ibadah salat lima waktu di Masjidil Haram.
Ada yang leyeh-leyeh menikmati nyamannya hotel InterContinental Dar Al Tawhid tempat menginap yang hanya sepenggalan galah ke Masjidil Haram. Tapi yang membuat saya terperangah, bukan pada sosok orang dari bangsa-bangsa asing beribadah.
Bukan pada seorang jenderal purnawirawan yang masih gagah dalam rombongan kami. Bukan pada sosok artis molek yang ikut memenuhi seruan Ibrahim. Tapi pada sosok bersahaja, humble, dan sangat memperhatikan keluhan jemaaah yang ia layani.
Bukan hanya ia seorang yang melayani kami. Tapi istrinya, dan seorang anak perempuan remaja, ikut bekerja secara langsung bahu-membahu.
Mereka menggalang tenaga tanpa ewuh pakewuh sebagai owner perusahaan jasa, bahkan tak tersirat kesan ada ketinggian hati saat melayani jemaaahnya. Padahal saya tahu, ia pemilik travel haji danumrah termashur di Tanah Air tahun 2003.
Belakangan ini, saat orang-orang merasa miris, kecewa, melontarkan kutukan, dan sumpah-serapah lainnya, hati saya tergoda ingin tahu lebih jauh. Sebuah angka yang maha dahsyat pun terungkap kepada khalayak, betapa spetakuler dana masyarakat terkumpul, dan kini tak dapat ia pertanggungjawabkan.
Konon, mendekati angka 60 ribu jemaaah lagi belum bisa diberangkatkan sebagai kewajiban korporasi. Gaya hidup jetset pun membuat orang terperanjat dengan sosok pengendali travel ibadah haji dan umrah yang dikelola suami-istri ini.
Dalam hati, sungguh kontrakdiksi yang sangat tajam. Di satu sisi, sosok sederhana yang saya kenal saat itu, Fuad Hasan Mansyur, pemilik sebuah travel perjalanan haji yang ternama, yang jemaaahnya juga ribuan orang tiap tahun.
Meski sudah puluhan tahun berkeringat melayani jemaah sejak 1986, ia tetap sosok bersahaja, murah senyum, dan jauh dari kesan glamour. Saat anak dan istrinya ikut turun langsung melayani jemaah sebagai contoh kecil betapa ia tawaddu menjalani usaha.
Jauh berbeda dengan Andika Surachman dan Anniesa Hasibuanpemilik First Travel yang tak dapat bertanggung jawab atas dana ratusan miliar rupiah dari kliennya. Hati saya pilu, perih, menjerit sampai ke titik nadir.


Senin, 04 September 2017

REVITALISASI PERAN KELUARGA

Keluarga merupakan komunitas pertama dan utama dalam pendidikan seorang anak. Penerusan nilai-nilai dan kebiasaan baik dilakukan pertama kali di dalam keluarga. Orangtua berperan penting mendidik anak-anak di dalam keluarga.
Sayangnya, kata Muhadjir (Mendikbud), orangtua saat ini pada umumnya tidak memiliki banyak waktu untuk mendidik anak. Fenomena orangtua bekerja di kota-kota besar membuat anak seakan-akan dititipkan proses pendidikannya pada sekolah.
Waktu orangtua bertemu dan berkomunikasi dengan anak cenderung sangat terbatas. Tak hanya itu, kemajuan teknologi juga memicu orangtua lebih sibuk dengan gadget daripada bermain bersama anak.
Bahkan, dia melanjutkan, sebagian orangtua yang merasa bersalah karena tak memiliki banyak waktu bagi anak justru menghadiahi anak dengan gadget. Padahal, tak serta merta gadget berdampak positif bagi anak. "Proses sosialisasi anak berpotensi terbatas," ujarnya.
Kebijakan pemerintah menerapkan lima hari sekolah tak lepas dari fenomena itu. Dalam sepekan, anak bisa memiliki dua hari bersama orangtua jika sekolah berlangsung hanya lima hari. "Dua hari dalam sepekan menjadi hari keluarga. Itulah saatnya keluarga berperan optimal mendidik anak," katanya.
Pemerintah juga berencana menerapkan eduparenting bagi orangtua yang anaknya mulai bersekolah. Program pendidikan keorangtuaan akan diberikan di awal tahun ajaran dalam bentuk diskusi atau seminar. "Eduparenting juga bisa dimasukkan dalam materi pendidikan pra-perkawinan yang diatur oleh Kementerian Agama," ujarnya.

Selasa, 13 Juni 2017

Pesantren Kilat Ramadhan Ceria 1438 H MBS Prof. Hamka

 Foto bareng santriwan peserta Peskil 2017 Ramadhan Ceria bersama MBS Prof. Hamka
 Foto bareng santriwati peserta Peskil 2017 Ramadhan Ceria bersama MBS Prof. Hamka
 #Cover Buku Materi Peskil 2017 MBS Hamka Kota Madiun
 Penyerahan Piala dan Penghargaan kepada Pemenang Lomba Tahfidz Ar-Rahman #Peskil2017MBS
Foto bareng dengan santriwan/santriwati peserta PESKIL 2017 yang memenangkan lomba cerdas cermat dan Tahfidz Ar-Rahman. Selamat yaaa, semoga menjadi pemacu semangat kalian dalam beribadah.

Selasa, 09 Mei 2017

PESKIL 2017

Bulan Ramadhan 1438 H segera tiba, mari Bapak/Ibu jadikan Ramadhan tahun ini lebih bermakna bagi Putra Putri Anda. Kami Ponpes MBS Prof. Hamka akan mengadakan Pesantren Kilat/ Peskil 1438 H dengan tema `Ramadhan Ceria Bersama MBS Hamka` pada tanggal 12 Juni - 14 Juni (3 hari 2 malam) bertempat di Kampus I Jl. Poncowati RT 33/04 Demangan Kota Madiun. 
Program khusus: 12 Jam Hafal Surat Ar-Rahman.
Peserta siswa SD/MI Kelas 2 - 6.
Infaq Rp. 75.000/anak.
PaHe Paket Hemat : Daftar kolektif 5 anak gratis 1.
Materi : Akidah, Fiqh, Ibadah, Tahfidz + Tahsin, Fun Game Sportivo, Lomba.
Fasilitas : Aula, Masjid, Asrama, Buku Materi, Sertifikat, Trophy.

Secara tidak sengaja menemukan tempat tersembunyi nan eksotis alam pemandangannya dan udara yang sejuk sangat pas untuk bergembira bersama melepas penat dalam acara yang dikemas ``OUT BOND ADVENTURE`` selain refreshing juga sebagai sarana pembelajaran `comeback to nature`.

Senin, 01 Mei 2017

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017, semoga pendidikan di Indonesia semakin berkualitas dan merata.